Minggu, 08 November 2015

 STASIUN (HALTE) KEDUNGBANTENG SRAGEN

Stasiun Kedungbanteng atau pada zaman dahulu disebut Halte Kedungbanteng adalah sebuah stasiun kecil yang terletak di Gondang Sragen. Lokasi stasiun ini tidaklah jauh dari lokasi bekas Pabrik Gula Kedungbanteng. Stasiun ini pada zaman dahulu dibangun oleh perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda Staat Spoorwegen (SS) pada tahun 1885-an yang menghubungkan Kota Solo dengan Kota Madiun. Selain itu stasiun ini dulu juga berfungsi sebagai stasiun distribusi tetes tebu PG Kedungbanteng.

Stasiun yang terletak di ketinggian 85 meter diatas permukaan air laut tersebut kini hanya difungsikan sebagai stasiun persilangan saja. Bangunan asli stasiun dari masa kolonialpun masih dipertahankan di stasiun ini, meskipun terdapat penambahan bangunan baru disisi timur. Dibagian depan stasiun masih bisa dijumpai rumah dinas pegawai stasiun. Dahulu disisi timur Stasiun Kedungbanteng terhubung dengan jalur lori (decauville) milik PG Kedungbanteng.

Halaman Depan Stasiun Kedungbanteng

Emplasemen Stasiun Kedungbanteng

 STASIUN (HALTE) MASARAN SRAGEN

Stasiun Masaran atau pada zaman dahulu disebut Halte Masaran adalah sebuah stasiun kecil yang terletak di Masaran Sragen. Stasiun ini pada zaman dahulu dibangun oleh perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda Staat Spoorwegen (SS) pada tahun 1885-an yang menghubungkan Kota Solo dengan Kota Madiun.
Stasiun yang terletak di ketinggian 93 meter diatas permukaan air laut tersebut kini hanya difungsikan sebagai stasiun persilangan saja. Bangunan asli stasiun dari masa kolonialpun masih dipertahankan di stasiun ini, meskipun terdapat penambahan bangunan baru disisi barat. Dibagian depan stasiun masih bisa dijumpai rumah dinas pegawai stasiun. Dahulu disisi timur Stasiun Masaran terdapat sebuah persilangan jalur lori (decauville) milik PG Modjo Sragen.  

Halaman Depan Stasiun Masaran Sragen

Emplasemen Stasiun Masaran Sragen

Kereta Melintas di Stasiun Masaran Sragen

 STASIUN SRAGEN

Stasiun Sragen adalah sebuah stasiun yang terletak di sebelah utara Pabrik Gula Modjo Sragen. Stasiun ini pada zaman dahulu bernama Stasiun Modjosragen karena keberadaan Pabrik Gula Modjo yang berada tepat disisi selatannya. Stasiun ini pada zaman dahulu dibangun oleh perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda Staat Spoorwegen (SS) pada tahun 1885-an yang menghubungkan Kota Solo dengan Kota Madiun.

Stasiun Sragen Tempo Dulu (Leiden)


Stasiun yang terletak di ketinggian 86 meter diatas permukaan air laut tersebut pada zaman dahulu selain digunakan untuk angkutan penumpang dan barang juga digunakan untuk angkutan tetes tebu milik PG Modjo Sragen. Bentuk asli bangunan stasiun memang sudah banyak berubah. Namun disekitar area stasiun masih bisa dijumpai deretan rumah dinas stasiun dengan bentuk aslinya.


Stasiun Sragen

Rumah Dinas Stasiun Sragen


Kereta Transit di Stasiun Sragen

Kereta Kahuripan Memasuki Stasiun Sragen



KERATON KARTASURA

Keraton Kartasura adalah sebuah keraton yang bisa dikatakan adalah cikal bakal dari Keraton Surakarta saat ini. Sejarah keberadaan Keraton Kartasura diawali dari pemberontakan Trunajaya dari Madura yang terjadi pada tahun 1677 yang menyerbu Keraton Mataram lama di Plered. Waktu itu Adipati Anom yang selanjutnya bergelar Amangkurat II, melarikan diri ke hutan Wanakerta dan kemudian mendirikan Keraton Kartasura. Keraton Kartasura berdiri pada tahun 1680.

Pada tahun 1681, Amangkurat II yang dibantu oleh VOC memenangkan peperangan dengan Kerajaan Mataram dimana waktu itu Pangeran Puger bertahta atas Kerajaan Mataram Plered.  Akhirnya Mataram berhasil dikuasai oleh Amangkurat II.

Setelah peristiwa tersebut, peperangan dan pemberontakan banyak menghiasi perjalanan Keraton Kartasura. Pemberontakan yang paling terkenal adalah pemberontakan Mas Garendi pada tahun 1742 yang dibantu oleh etnis Tionghoa yang menyerbu dan menghancurkan Keraton Kartasura. Peristiwa tersebut terkenal dengan peristiwa geger pecinan.

Waktu itu Pakubuwono II yang berkuasa melarikan diri ke Ponorogo. Pada tahun 1743, Pakubuwono II kembali ke Kartasura karena pemberontakan sudah berhasil ditaklukkan. Namun pada waktu itu kondisi keraton sudah porak poranda dan tidak memungkinkan lagi untuk ditinggali oleh seorang raja. Maka dari itu, Pakubowono II memilih untuk memindahkan Keraton Kartasura ke Desa Sala yang saat ini dikenal dengan nama Surakarta. Peristiwa perpindahan keraton tersebut terkenal dengan istilah bedol negari.


Kini bagian dari bangunan Keraton Kartasura sudah tidak berbekas, karena pada saat peristiwa bedol negari pada tahun 1745 banyak bagian bangunan utama seperti: Keraton, Masjid Agung, Gedong Obat (penyimpanan mesiu), dan Tangsi Kompeni (barak militer) ikut dipindahkan ke lokasi kerajaan yang baru di Desa Sala.

Bangunan yang masih bisa disaksikan dilokasi bekas Keraton Kartasura adalah bangunan benteng yang bernama Benteng Srimanganti. Bangunan benteng tersebut kini masih berdiri kokoh meskipun banyak bagian banguan yang telah rusak.
Benteng tersebut adalah saksi bisu dari berdirinya Keraton Kartasura pada tahun 1680 hingga 1742. 


Bangunan benteng yang memiliki tebal 2 meter dan tinggi 4 meter tersebut pada zaman dahulu dibagian atasnya dapat dilewati oleh kuda kerajaan yang melakukan patroli.

Didalam bangunan benteng, terdapat komplek pemakaman keluarga keraton. Namun seiring dengan berjalannya waktu, masyarakat sekitar pun menjadikan lokasi pemakaman tersebut menjadi pemakaman umum. Tetapi sejak tahun 2005 lokasi tersebut tertutup untuk pemakaman umum.

Beberapa benda bagian dari bangunan Keraton Kartasura saat ini ada yang tersimpan di Museum Radya Pustaka Solo. 

SUIKER FABRIEK (PABRIK GULA) KARTASURA

Pabrik Gula Kartasura adalah sebuah pabrik gula yang terletak disebelah barat Kota Solo atau tepatnya berada di Pabelan Kartasura Sukoharjo. Tak banyak orang yang mengetahui sejarah pabrik gula ini. Bahkan catatan sejarah mengenai aktivitas pabrik gula ini pun sangat sedikit. 

Pabrik Gula Kartasura Tahun 1906 (Leiden)

Dulu pabrik ini terhubung dengan jalur kereta api menuju Stasiun Purwosari melalui Halte Gembongan yang tak jauh dari lokasi pabrik untuk angkutan tetes tebunya.
 Pabrik gula yang kini dimiliki oleh pihak swasta tersebut kemungkinan didirikan pada awal abad 19. Tercatat tahun terakhir operasional Pabrik Gula ini adalah pada tahun 1981. Kini bangunan pabrik digunakan sebagai gudang.


Pegawai Pabrik Gula Kartasura (Leiden)


Aktivitas Angkutan Tebu PG Kartasura (Leiden)


Bangunan Utama PG Kartasura

Bangunan Gudang PG Kartasura

Perkiraan Rumah Administrateur PG Kartasura

STASIUN KARTASURA

 Stasiun Kartasura adalah sebuah stasiun kecil  non aktif yang terletak di Kartasura Sukoharjo. Stasiun ini pada zaman dahulu dibangun oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda Solosche Tramweg Maatschappij (SoTM) untuk layanan tram kuda dari Kota Solo menuju Boyolai. Pada tahun 1905 SOTM mengalami kebangkrutan dan kemudian pengelolaan stasiun ini diambil alih oleh Nederland Indische Stoomtram Maatschappij (NISM) yang kemudian mengganti tram kuda dengan kereta api uap.
Bangunan Stasiun Kartasura masih asli. 

Disebelah timur bangunan stasiun masih terdapat sebuah rumah dinas stasiun. Stasiun ini ditutup pada dekade 1970-an karena kereta dijalur tersebut kalah bersaing dengan angkutan umum dan kendaraan pribadi. Kini bangunan Stasiun Kartasura telah dimanfaatkan menjadi warung sate.

Tram Kuda Milik SoTM

Jalur Kereta dari Solo Menuju Kartasura

Bekas Emplasemen Stasiun Kartasura

Bagian Belakang Stasiun Kartasura

STASIUN WONOGIRI

Stasiun Wonogiri terletak di Giripurwo, Wonogiri. Stasiun ini merupakan stasiun terminus dari arah Solo. Dahulu dari stasiun ini terdapat perpanjangan jalur hingga Baturetno, akan tetapi karena adanya proyek pembangunan Waduk Gajah Mungkur pada tahun 1978 jalur tersebut dinon aktifkan.

Stasiun yang terletak tak jauh dari pusat Kota Wonogiri ini dahulu memiliki sebuah bangunan dipo lokomotif, namun kini bangunan dipo telah dirubah menjadi masjid. Kini kereta yang melayani perjalanan di Stasiun Wonogiri hanyalah kereta railbus Batara Kresna.