Minggu, 08 November 2015

SUIKER FABRIEK (PABRIK GULA) TASIKMADU KARANGANYAR

Pabrik Gula Tasikmadu adalah sebuah pabrik gula yang pendiriannya di prakarsai oleh salah satu bangsawan pribumi yaitu KGPAA Mangkunegara IV yang memimpin Kraton Mangkunegaran kala itu. Pendirian pabrik gula ini dilakukan pada tahun 1871 atau 10 tahun berselang setelah pendirian pabrik gula Colomadu yang juga milik KGPAA Mangkunegara IV. Kemajuan industri gula dimasa itu memang membuat Mangkunegara IV kepincut untuk beriventasi di bidang industri gula.
Dahulu lokasi tempat berdirinya Pabrik Gula Tasikmadu bernama Desa Sondokoro. Namun saat Mangkunegara IV hendak mendirikan pabrik gula di area tersebut, nama Sondokoro di ganti dengan nama Tasikmadu yang berarti danau madu. Nama tersebut mungkin adalah sebuah pengharapan layaknya nama pada Pabrik Gula Colomadu yang berarti gunung madu yang diharapkan mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyat sekitarnya.
Pabrik Gula Tasikmadu sendiri berdiri diatas lahan seluas 28,364 hektar milik Kraton Mangkunegaran.
Seiring berjalannya waktu, pengelolaan pabrik kini dilakukan oleh pemerintah melalui PTPN IX. Usia bangunan pabrik gula yang sudah tua serta banyaknya alat-alat giling
yang berangka lawas membuat pemerintah menjadikan pabrik gula ini sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB) yang harus dilindungi dan dilestarikan.
Pada tahun 2006 disekitar halaman pabrik didirikan sebuah taman wisata bernama Agrowisata Sondokoro. Taman tersebut selain sebagai tempat wisata juga berfungsi sebagai tempat edukasi sejarah Pabrik Gula Tasikmadu bagi masyarakat.

PG Tasikmadu

Sisi Selatan PG Tasikmadu

Mesin Giling PG Tasikmadu


Monumen Lokomotif PG Tasikmadu


Monumen Lokomotif dan Loko Don PG Tasikmadu

Monumen Lokomotif PG Tasikmadu (Gauge 1067)

Lori Bader PG Tasikmadu

Kereta Milik Mangkunegara IV (Kremon)

Kereta Kuda (Bendi) Milik Mangkunegara IV


Kereta Wisata Agro Sondokoro


Bekas Jembatan Lori PG Tasikmadu di Sisi Utara


Bekas Jembatan Lori PG Tasikmadu di Sisi Selatan


Rumah Administrateur PG Tasikmadu

Gazebo Rumah Administrateur PG Tasikmadu










 PATOK BATAS KRATON KASUNANAN DENGAN MANGKUNEGARAN


Patok batas wilayah kekuasaan antara Keraton Kasunanan dengan Keraton Mangkunenagaran. Belum banyak referensi mengenai patok ini. Tapi pada zaman dahulu patok ini berfungsi sebagai batas wilayah kekuasaan antara dua keraton yang ada di Solo.

Patok yang terbuat dari marmer tersebut dibagian atasnya terdapat sebuah angka, namun belum diketahui apa makna dari angka tersebut. Hingga kini diketahui hanya 2 patok yang masih tersisa. Patok-patok lain kemungkinan telah terkubur akibat pembangunan Kota Solo yang pesat.


BALAI SOEDJATMOKO

Balai Soedjatmoko adalah sebuah bangunan kuno yang masuk dalam jajaran bangunan cagar budaya yang ada di Kota Solo yang berdiri di Jalan Slamet Riyadi.
Soedjatmoko adalah seorang tokoh penting yang memiliki banyak kiprah dalam perpolitikan di Indonesia. Tercatat beliau pernah menjadi anggota Partai Sosialis Indonesia (PIS), delegasi PBB, delegasi Konferensi Asia Afrika, dan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat.

Balai Soedjatmoko pada awalnya adalah rumah ayahanda Dr. Soedjatmoko yang bernama Prof. Dr. KRT. Mohammad Saleh Mangundiningrat. Beliau adalah seorang dokter Kraton Kasunanan Surakarta.

Soedjatmoko lahir di Sawahlunto pada tahun 1922, namun saat pendudukan Jepang di Indonesia beliau pindah dan menetap di Solo hingga wafat di Yogyakarta pada tahun 1989.
Bangunan rumah tua bergaya kolonial tersebut kini telah dibeli oleh grup Kompas Gramedia untuk dijadikan toko buku.
Setelah melalui renovasi bangunan tersebut kini banyak dimanfaatkan sebagai tempat pementasan pertunjukan, pameran, bedah buku, dan lain-lain. Penamaan balai Sudjatmoko sendiri bertujuan untuk melacak jejak teladan kecendikiawanan Soedjatmoko.




 GAPURA KERATON BATAS KOTA SOLO

Gapura Keraton adalah sebuah bangunan gapura yang pada zaman dahulu difungsikan sebagai pembatas sekaligus pintu gerbang masuk ibu kota Kerajaan Kasunanan Surakarta (Kota Solo) dengan daerah sekitarnya. Gapura Keraton tersebut didirikan oleh Paku Buwono X pada kisaran tahun 1931 hingga 1932.
Gapura Keraton sendiri tidak hanya didirikan dijalan utama atau jalan penghubung saja, melainkan juga ada yang didirikan dipinggir Sungai Bengawan Solo yang pada waktu itu menjadi dermaga dan tempat penyeberangan di Kota Solo.
Secara fisik Gapura Keraton dibagi menjadi dua, yakni gapura dengan ukuran besar dan ukuran kecil. Selain perbedaan dari segi ukuran fisik, perbedaan lain adalah adanya sebuah prasasti yang melekat dibangunan gapura. Dibagian prasasti tersebut biasanya tertulis pendiri gapura dan waktu pembangunan gapura.
Gapura Keraton sendiri secara keseluruhan berjumlah tujuh buah yang tersebar dibeberapa titik dan arah, yaitu: Jurug, Kandang Sapi, Kleco, Makamhaji, Baki, Grogol dan Mojo/ Silir. Dari ketujuh gapura tersebut hanya tiga yang memiliki ukuran besar atau memiliki prasasti di bagian bangunannya, yaitu: Jurug, Kleco, dan Grogol. Mungkin pada masanya jalanan di tiga gapura tersebut sudah ramai dan menjadi jalan utama.


Gapura Batas Utara di Jurug  



Gapura di Tepi Sungai Bengawan Solo di Mojo/ Silir


Gapura Batas Selatan di Grogol

Gapura Batas Selatan di Baki

Gapura Batas Barat di Makamhaji



Gapura Batas Utara di Kandang Sapi

Gapura Batas Barat di Kleco

Gapura Batas Barat di Kleco Tahun 1900 (Leiden)








CANDI KALASAN

Candi Kalasan atau Candi Kalibening adalah sebuah candi Budha yang terletak di Desa Kalasan Kabupaten Sleman Yogyakarta. Candi yang terletak disarming jalan raya Solo – Yogya ini memiliki 52 stupa.
Berdasarkan pada prasasti Kalasan yang bertarikh 778 yang ditemukan tidak jauh dari candi, pembangunan candi ini dimaksudkan untuk menghormati Bodhisattva wanita Tarabhawana dan sebagai vihara bagi para pendeta.

Raja yang memerintahkan pembangunan candi ini adalah Maharaja Tejapurnapana Panangkaran atau Rakai Panangkaran dari keluarga Syailendra. Candi ini sekaligus juga menjadi bukti kehadiran Wangsa Syailendra penguasa Sriwijaya di Sumatra atas Jawa.


Dalam sebuah prasasti Kalasan berhuruf Pre Nagari yang berbahasa Sanksekerta, menyebutkan bahwa para guru sang Raja Tejapurnapana Panangkaran berhasil membujuk sang raja untuk membangun bangunan suci bagi Dewi Tara beserta dengan biara bagi para pendeta sebagai hadiah dari Sangha.





Candi Kalasan Tahun 1910 (Leiden)
          

 STASIUN DEMAK

Stasiun Demak adalah salah satu stasiun non aktif yang terletak di Kabuaten Demak Jawa Tengah. Stasiun yang dibuka untuk umum pada tahun 1885 tersebut didirikan oleh perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda Samarang Joana Stommtram Maatschappij (SJS).



Selain bangunan utama stasiun, terdapat bangunan pendukung lainnya seperti gudang dan menara air yang masih bisa dijumpai dilingkungan sekitar stasiun.
Dahulu stasiun ini juga memiliki percabangan jalur menuju Grobogan hingga Cepu. 1980-an adalah dekade terakhir operasional stasiun ini karena menurunnya jumlah okupansi penumpang. Bangunan stasiun kini dimanfaatkan sebagai café.






GEDUNG DEWAN HARIAN CABANG (DHC) ’45 SOLO

Gedung DHC ’45 didirikan pada tahun 1876 oleh pemerintah Hindia Belanda. Pada awalnya pembangunan gedung tersebut diperuntukkan sebagai bangunan sekolah dan asrama sebagai pelengkap kompleks militer Benteng Vastenburg yang berada didepannya. Dimasa pendudukan Jepang, gedung tersebut sempat dikuasai oleh pasukan Nipon dengan sebutan Senkokan.

Gedung DHC ’45 Tahun 1930-an (Leiden)

Setelah berhasil direbut kembali pada masa kemerdekaan, secara berturut-turut gedung tersebut digunakan sebagai panti asuhan, markas kesatuan TNI, dan akhirnya digunakan sebagai kantor oleh pengurus DHC ’45. Gedung yang dimiliki oleh Kementerian Pertahanan tersebut kini masuk dalam daftar Bangunan Cagar Budaya (BCB) Kota Solo yang perlu dilindungi dan dilestarikan.